Menu
Portal Berita

Santapan Khas Kota Besar Yang Tidak Sering Dilihat Wisatawan

  • Share

Yogyakarta tidak sempat bebas dari darmawisata alam serta darmawisata kuliner nya. Tidak cuma banyak hendak tempat darmawisata tetapi pula jogja banyak dengan darmawisata kuliner yang rasanya bisa menghipnotis turis yang bertamu serta mencicipi rasanya. Yogyakarta ialah provinsi yang tidak sering hening turis sebab sesuai buat tempat liburan, disamping itu biayanya yang merakyat.

Beraneka ragam tipe darmawisata kuliner santapan khas Yogyakarta yang jadi kesukaan banyak turis ataupun masyarakat lokal. Liburan di jogja pasti tidak hendak komplit bila tidak bawa bawaan buat keluarga serta saudara dekat. Santapan khas Yogyakarta merupakan Gudeg serta Bakpia, tetapi tidak cuma itu.

Terdapat salah satu santapan khas serta sesuai buat oleh oleh dari Yogyakarata bernama yangko yang berawal dari salah satu kecamatan di kota Yogyakarta ialah Kotagede. Walaupun yangko tidak seterkenal bakpia tetapi yangko pula sesuai buat dijadikan selaku bawaan. Umumnya penikmat yangko merupakan para orang berumur.

Tetapi para anak muda pula tidak takluk senang menikmati yangko. Sejenak julukan wingko serta yangko mendekati, tetapi sebenernya mereka ialah 2 santapan yang berlainan loh. Wingko ialah santapan yang dibuat dari aci beras, gula serta perisa tetapi wingko memakai parutan dari kelapa belia. Sebaliknya yangko dibuat dari aci ketan serta pembuatannya tidak memakai kombinasi parutan kelapa.

Yangko warnanya telah terdapat semenjak era kerajaan, yang dimana dikala itu yangko diketahui selaku santapan raja- raja ataupun para priyayi. Apalagi pangeran Diponegoro kerap menghasilkan yangko selaku salah satu bekal kala dia hendak bertarung sebab bisa bertahan lama. Kabarnya, orang yang awal kali mengenalkannya yangko merupakan Mbah Ireng.

Walaupun Mbah Ireng telah membuat Yangko semenjak tahun 1921, yangko terkini mulai diketahui besar oleh warga pada tahun 1939. Awal mulanya, yangko ini cuma bermuatan kombinasi kacang serta gula tetapi saat ini telah bermacam berbagai versi rasa yang terbuat. Banyak yang belum mengerti loh jika yangko itu santapan khas Kotagede Yogyakarta.

Yangko ialah santapan khas Yogyakarta yang dibuat dari aci ketan. Yangko berupa kotak dengan baluran aci ketan serta mempunyai komposisi elastis dengan rasa manis. Yangko bermuatan cincangan kacang semacam moci cuma saja kelainannya moci teksturnya lebih elastis dibandingkan yangko. Yangko pula salah satu oleh oleh yang disukai turis.

Pembuatan yangko tidak cuma terdapat di Kotagede tetapi didaerah jogja yang lain semacam di Umbulharjo, Singosaren, serta sewon pula terdapat. Dari hasil tanya jawab aku dengan salah satu kreator yangko di Wirokerten ialah bunda Karmini. Yangko itu bernama Yangko Mawar Ekstrak persisnya di wilayah Kepuh Wetan rt 001 Wirokerten banguntapan Bantul.

Dulu Yangko Mawar ini merupakan upaya keluarga terbuat oleh orang berumur Bu Karmini sendiri setelah itu dilanjutakan oleh Bu Karmini semenjak tahun 1988 serta hingga saat ini usahanya telah dilanjut oleh buah hatinya. Yangko Mawar kepunyaan bu Karmini ini mempunyai bermacam berbagai versi rasa semacam durian, stroberi, cocopandan serta frambos( sirup rasberi) tetapi.

Dalam satu box yangko telah bermuatan seluruh versi rasa. Bu Karmini tidak memproduksi yangko tiap hari tetapi cuma sepekan sekali bersama buah hatinya, tetapi dikala mendekati Idulfitri Bu Karmini memproduksi nya tiap hari bersama seluruh para karyawannya. Yangko Mawar Ekstrak ini mempunyai daya tahan bila masa hujan cuma 8- 9 hari di temperatur ruangan.

Tetapi bila di masa gersang yangko memliki daya tahan hinggan 12- 15 hari di temperatur ruangan. Cara pembuatan yangko ini terkait banyak nya yangko yang mau terbuat jika setiap hari dekat 3 jam menciptakan 120 box tetapi bila mau Idulfitri menggapai 1000 box/hari. Cara pembuatan yangko dulu sedang memakai daya orang buat mengaduk.

Tetapi dengan kemajuan teknologi pembuatannya telah modern memakai mesin. Dalam pembuatan yangko ini terdapat sebagian hambatan yang bisa membatasi cara pembuatannya,” dikala masa hujan merupakan salah satu hambatan pembuatan yangko sebab beras ketan ini wajib direbus serta dijemur sepanjang 5 hari. Untuk anda yang ingin membeli nasi tumpeng, anda bisa lansung kujungi website kami di rumahtumpengjakarta.com di jamanin enak.

Sebab yangko Mawar Ekstrak ini sedang memercayakan cahaya mentari buat menjemur beras ketan itu” ucap Bu karmini. Sehabis lewat cara penjemuran, beras ketan digiling kemudian di menggongseng. Setelah itu Beras ketan yang telah digiling, digiling kembali terkini setelahnya di tapis supaya menciptakan aci terkini yang lembut alhasil esoknya bisa terbuat adukan yangko.

Sehabis beras ketan telah jadi aci setelah itu diaduk dengan gula pasir yang telah dicairkan serta di aduk bersama dengan perisa yang di idamkan. Kemudian dibangun cocok kemauan kreator tetapi biasanya yangko berupa kotak dengan dimensi 2 x 2 centimeter. Setelah itu, yangko yang telah jadi diberi aci beras supaya menjauhi lengket dikala dipotong.

” Cara pengepakan yangko aku jalani sendiri, dibantu oleh anak serta para pegawai, sering- kali anak anak kecil turut menolong dalam cara pengepakan yangko dengan pengawasan” ucap bu Karmini. Yangko ini umumnya dipromosikan diberbagai pasar wilayah Yogyakarta semacam pasar Pleret, pasar Barisan serta pasar- pasar yang lain.

Tetapi, pada dikala bulan ramdhan ataupun mendekati hari Idulfitri yangko ini didapat oleh para orang dagang buat dipromosikan kembali di pasar Wonosari, pasar Godean, pasar Ngijon serta bu Karmini sendiri menjual produknya ke pasar Wates sebab energi jual belinya yang amat besar tetapi tidak cuma dipasar tetapi di gerai bawaan jogja bias diperoleh.

Umumnya harga pasaran yangko merupakan dekat 15. 000– 20. 000 pastinya ekonomis sekali bukan? Dengan bertumbuhnya teknologi kita selaku anak belia dapat mamasarkan yangko ini melalu internet semacam di Instagram, tiktok serta lain serupanya. Jadi buat kamu para anak muda ayo lestarikan santapan konvensional atau makanan- makanan khas wilayah kamu.

Supaya terus menjadi banyak generasi- genrasi yang bisa berupaya atau merasakan makanan- makanan khas wilayah yang tidak takluk lezat. Dengan kita menolong melestarikan, kita pula bisa menolong para pekerja- pekerja rumahan yang membuat santapan atau olahan- olahan yang khas dari wilayah dan bisa membuat santapan ini tidak musnah dari asalnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *