Membayar Zakat Penghasilan

Setiap bulan Ramadhan, tidak sedikit Muslim bertanya dan hendak membayar zakat penghasilan dan semua ustadz menceramahkannya dilayar kaca dan corong radio.

Kenapa di bulan Ramadhan? Sebenarnya, bayar zakat mal (penghasilan) tidak mesti di bulan Ramadhan. Tapi sebab pertimbangan praktis, biar mudah mengingatnya, sekaligus konon guna memanfaatkan momentum pahala tinggi di bulan Ramadhan, mayoritas Muslim menunaikan zakat hartanya di bulan Ramadhan.

Sekedar menyegarkan ingatan, berikut keterangan singkat mengenai 3 (tiga) kriteria utama yang butuh diketahui berhubungan membaya rzakat pengasilan dan misal perhitungan praktisnya:

  1. Jumlah harta telah mengisi nishab (batas minimal), yang setara 85 gram emas (pada Juni 2016 harga emas selama 600.000x 85 gram emas = Rp51.000.000).
  2. Hitungan nishab yang menjadia cuan ialah saldo harta sesudah dikurangi keperluan pokok (sandang, pangan,papan) dan utang yang jatuh tempo.
  3. Harta tersebut sudah (dan/atau diasumsikan) telah dipunyai selama setahun (satu haul).

 

Ilustrasi praktis:

  • Penghasilan Rp15.000.000 masing-masing bulan x 12 bln= Rp180.000.000,-
  • Pengeluaran/kebutuhan pokok: Rp7.000.000 x12 bln = Rp84.000.000,-
  • Pengeluaran guna bayar utang contohnya kredit lokasi tinggal dan kendaraan yang telah jatuh tempo sebesar Rp3.000.000 x 12 blm= 36.000.000,-
  • Berarti saldo pendapatan bersih ialah Rp60.000.000(Rp180.000.000 dikurangi Rp120.000.000 yang merupakan campuran kebutuhan pokok Rp84.000.000dan utang/kredit Rp36.000.000).
  • Karena sisa pengasilan bersih itu – sesudah dikurangi keperluan pokok dan utang – telah mengisi bahkan lebih dari nishab (yang melulu Rp51.000.000), maka kita wajib menunaikan zakat sebesar Rp1.500.000 (2,5%x Rp60.000.000).

 

Catatan: Kalau sisa pengasilan bersih tersebut kurang dari nishab (Rp51.000.000), kita belum dikenakan zakat wajib. Kalau inginkan berinfak dan bersedekah, silahkan saja, in-sya’-Allah pahalanya sama dan semoga berterima di sisi-Nya.

Karena informasi/input data pengeluaran (kebutuhan pokok dan utang) dilakuan sendiri-sendiri, maka masing-masing pembayar zakat butuh mempunyai kejujuran personal. Jangan pernah tergoda mengelebui diri sendiri, dengan teknik mencurangi angka-angka perhitungan zakat kita sendiri.

Terkait dengan distribusi zakat mal, sekitar ini saya masih berasumsi, lebih baik dilaksanakan sendiri-sendiri saja. Sebab dibanding semua pengurus badan-badan pengelola zakat, barangkali saya-Anda-dia lebih memahami siapa-siapa yang paling pantas dan berhak menerima zakat, yang ada di dekat kita dan barangkali berdomisili tidak terlampau jauh dari lokasi tinggal kita masing-masing.

Mari menyediakan waktu guna belajar tata teknik pembayaran zakat, laksana halnya anda pernah menyediakan waktu guna belajar tata teknik shalat dan puasa dengan benar.

Leave a Comment