Mengenal Perbedaan Ekspedisi Dan Logistik

Ada orang yang mengira pengiriman dan tersebut adalahistilah yang sama, sebab sering digunakan di sektor ekspedisi barang. Di Indonesia sendiri pertumbuhan sektor ini paling pesat, terutama semenjak maraknya E-Commerce yang menjadi opsi masyarakat guna transaksi jual beli. Tahun 2021 saja industri di bidang pengiriman maupun logistik juga ditebak kembali meningkat sampai 12 persen. Tapi apa sebenarnya definisi kedua istilah itu dan apa saja bedanya?

Pengertian Ekspedisi dan Logistik

Dua istilah di atas punya pengertiannya masing-masing. Supaya tidak salah memahaminya Anda dapat mengetahuinya melewati informasi berikut.

1.Ekspedisi

Jasa Ekspedisi Jakarta Surabaya Murah dan Pasti Aman ~ Ekspedisi secara umum dengan kata lain merupakan pekerjaan berupa perjalanan untuk menjangkau sebuah tempat tertentu. Tujuannya dapat bervariasi, terdapat yang untuk riset maupun menjelajahi suatu kawasan. Tapi bila dikaitkan dengan kirim barang maka pengiriman merupakan ialah sebuah perusahaan yang punya pekerjaan mengirim barang dengan kapasitas sedang sampai kecil ke sekian tidak tidak banyak daerah.

Pengiriman dengan jenis jasa ekspedisi, dinilai lebih cepat sampai sebab ada opsi layanan hingga dalam satu hari. Makanya layanan ini paling populer di kalangan masyarakat. Karena terdapat layanan yang mengacu pada kecepatan hingga dan harga yang lebih murah ketimbang layanan lain.

2.Logistik

Istilah logistik dengan kata lain lebih untuk pengelolaan sekian tidak tidak banyak jenis pekerjaan yang bersangkutandengan kirim, pengadaan, penyediaan gudang, sampai menyimpan sekian tidak tidak banyak jenis barang dengan aturan yang jelas. Kalau bicara soal logistik, jasa logistik adalahperusahaan yang meluangkan jasa kirim barang, gudang, manajemen, sampai transportasi. Jadi cakupan-nya lebih luas ketimbang ekspedisi.

Perbedaan Ekspedisi dan Logistik

Biar keadaan bingung Anda mengenai dua istilah pengiriman dan logistik, selanjutnya jajaki pahami perbedaannya.

1.Fokus Layanan

Ekspedisi memiliki konsentrasi layanan, guna kirim sekian tidak tidak banyak jenis barang dari konsumen personal maupun bisnis ke penerima di sekian tidak tidak banyak daerah. Fokus ini berlaku untuk seluruh jenis ekspedisi. Logistik beda lagi, layanan-nya lebih fokus untuk pemenuhan keperluan konsumen skala besar yang tidak saja soal kirim barang. Tapi termasuk meluangkan armada guna mengirim barang, gudang penyimpanan barang, hingga masalah manajemen bidang logistik yang dibutuhkan.

2.Lokasi Pengiriman

Jasa pengiriman akan mengirimkan tidak tidak tidak sedikit barang dalam sekali pengantaran ke sekian tidak tidak banyak alamat cocok Request semua pengirim. Bahkan dalam satu hari dapat mengantar ke ratusan alamat, dengan menggunakan sekian tidak tidak banyak jenis armada dari kendaraan roda empat sampai roda dua. Jasa logistik seringkali hanya mengantar ke tempat dari satu konsumen saja cocok peta penyaluran produk konsumen tersebut. Biasanya merupakankonsumen dari kalangan perusahaan yang bercita-cita mengalirkan produk ke sekian tidak tidak banyak lokasi.

3.Jumlah Muatan

Soal jumlah muatan, pengiriman membawa muatan dalam jumlah kecil dan diangkut oleh kurir menggunakan sekian tidak tidak banyak jenis armada. Biasanya berupa mobil van skala kecil dan motor, dengan rute yang sudah diputuskan perusahaan ekspedisi. Logistik, jumlah muatannya saja minimal menjangkau 10 ton hingga 50 ton, pasti armada yang digunakan lebih besar. Ada yang memakai truk, kapal laut, bahkan pesawat terbang.

4.Jenis layanan

Ekspedisi melulu mempunyai layanan guna pengantaran barang saja, tanpa meluangkan gudang, perangkat transportasi, lagipula konsultasi untuk menciptakan sebuah manajemen logistik yang baik. Sedangkan logistik mempunyai semua itu, terdapat layanan ekspedisi barang, penyediaan gudang guna barang kepunyaan konsumen. Juga mencakup layanan pengadaan armada transportasi serta konsultan, untuk menolong konsumen menciptakan sebuah sistem manajemen logistik yang baik dan tepat.

5.Fokus Konsumen

Konsumen yang menggunakan pengiriman berasal dari sekian tidak tidak banyak kalangan, seringkali dikenal dengan sistem pelayanan Business to Consumer. Beda dengan logistik dengan konsentrasi konsumen-nya pada perusahaan skala menengah sampai besar, dikenal dengan sistem Business to Business.

Kebudayaan Suku Pamona dan Adat Istiadat Suku Pamona

Kebudayaan Suku Pamona

1. Musik

berita poso terkini ~ Secara tradisional, suku Pamona mempunyai gaya musik dalam format kata yang diucapkan. Salah satu misal dari gaya musik yang tidak jarang dinyanyikan salah satu rakyat desa pada tahun 1940-an:-

2. Tarian

Tarian Dero, atau modero adalahtarian populer di kalangan Suku Pamona. Tarian ini diselenggarakan pada pesta-pesta rakyat. Biasanya dilaksanakan oleh orang-orang muda. Tarian melingkar dilaksanakan dengan saling bergandengan tangan, seraya berbalas pantun diringi musik ceria. Beberapa wilayah di Palu melarang pekerjaan tarian dero atau modero sebab sering menjadi pemicu perkelahian antar pemuda yang saling berebut perhatian gadis-gadis. Tarian Dero, dipisahkan atas tiga macam gerakan dan tahapan kaki cocok dengan ritme musik. Yang kesatu dinamakan dengan ende ntonggola, melangkahkan kaki kekanan dua langkah, selangkah ke belakang dan seterusnya berulang. Ditarikan ketika menyambut bulan purnama, di mana masa-masa mulai persiapan lahan menantikan waktu bercocok.  Waktu bercocok tanam ialah saat bulan mulai gelap.

Gerakan tari yang berikutnya dinamakan dengan ende ngkoyoe atau ende ntoroli, yakni dua tahapan kekanan dan selangkah kekiri. Gerakan ini dilaksanakan saat mengantar panen, perayaan hari besar atau pesta. Gerakan tari yang terakhir dinamakan ende terdapat (adat), yang diperlihatkan untuk penyambutan hari-hari adat atau perayaan. Gerakannya sama dengan ende ntoroli, perbedannya terletak pada tangan semua penari yang tidak bergandengan atau berpegangan. Tarian Dero juga bermanfaat sebagai sarana hubungan sepasang kekasih di depan umum, kecuali guna tari Raego yang agak kental dengan kebiasaan dan tidak berhubungan dengan hubungan sepasang kekasih.

3. Sosial

Orang-orang Pamona hidup dalam permukiman memanjang yang tersebar di puncak bukit sepanjang lembah Sungai Poso yang dilindungi dari serangan musuh. Kehidupan keseharian dijalani dengan teknik kepemimpinan bareng melalui konsensus yang memperbolehkan Kabosenya—seorang pemimpin suku atau komunitas, beraksi sebagai wakil guna bernegosiasi dengan komunitas lain, memimpin perang antarsuku, pengiriman berburu kepala dan penangkapan budak, menata perayaan suku, dan pekerjaan lainnya. Unjuk hegemoni laksana perebutan wilayah, perburuan budak dan kulit kepala, kompetisi dagang dan sejenisnya merangsang rivalitas dan semakin memperlebar jarak antarsuku yang terlibat.

Permukiman di puncak bukit juga semakin sulit untuk diserang karena dilindungi dengan kuat. Sistem pertanian yang dilaksanakan orang-orang Pamona pada masa lampau ialah perladangan berpindah. Beras dan jagung ialah tanaman buatan utama dalam sistem ini dan semua petani Pamona seringkali memperdagangkan hasil hutan laksana damar untuk para saudagar Tionghoa atau Muslim di pesisir pantai. Hasil dagang dipakai untuk mendapat pakaian, gula, perhiasan, senjata, dan barang lainnya. Pakaian ialah barang yang lazimnya dijadikan saran tukar-menukar antarsuku.

Adat Istiadat Suku Pamona

Tradisi yang sangat sering dijumpai pada suku Pamona merupakan tradisi Katiana , yakni upacara selamatan kandungan pada masa hamil yang kesatu seorang ibu. Upacara Katiana ini seringkali dilakukan bilamana kandungan tersebut sudah berumur 6 atau 7 bulan, ketika kandungan dalam perut sang ibu telah mulai membesar. Maksud penyelenggaraan upacara Katiana ini ialah untuk memohon keselamatan ibu, lokasi tinggal tangga, dan terutama keselamatan bayi di dalam kandungan. Dengan upacara ini, bayi di dalam kandungan diinginkan dapat tumbuh subur, sempurna, dan tidak tidak sedikit mengganggu kesehatan sang ibu. Secara psikologis, upacara ini menyerahkan pegangan untuk sang ibu dan semua sanak kerabat supaya tetap tabah dan powerful menghadapi hal-hal yang lumayan kritis dalam kurun masa-masa 9 bulan masa kehamilan.

Lalu tradisi Pandungku yaitu,ucapan syukur sesudah panen.Setelah panen masyarakat Pamona selalu menyelenggarakan ucapan syukur atas berkat kesuksesan yang diserahkan Tuhan Yesus. Meskipun masyarakat Pamona mayoritas bukan petani namun harus menyelenggarakan ucapan syukur itu dan perkataan syukur itu di laksanakan di gereja dan sesudah ibadah perkataan syukur masing-masing orang bisa berangjangsana satu sama lain. Tanpa pengecualian untuk siapa saja akan berangjangsana karena acara tersebut dibikin setahun sekali. Makanannya enak-enak bila acara besar laksana ini. Selanjutnya adat perkawinan yang di pakai untuk menata mas kawin yang di tanggung oleh mempelai laki-laki yang bakal di serahkan untuk orang tua mempelai perempuan, mas kawin tersebut tidak jarang di sebut dengan “Sampapitu”.

Nah, dalam mengemban adat perkawinan itu masih terdapat sampai kini tradisi gotong royong atau menolong dalam perkawinan yang seringkali di sebut dengan “Posintuwu”. Bantuan yang diserahkan berupa bahan-bahan makanan, tenaga, duit dan sebagainya. Wujud pertolongan seperti tersebut atau Posintuwu bakal terus ada sebab setiap orang yang telah di beri Posintuwu bakal membalasnya di lantas hari andai pemberi sebuah hari menyelenggarakan pernikahan. Ada lagi upacara pemindahan mayat yang dinamakan dengan Ndatabe. Jenazah tersebut ditabung pada tambea (tempat penyimpanan jenazah) hingga menjadi tulang belulang yang bersih dan letaknya agak jauh terpisah dari penduduk. Bila jenazah itu tinggal tulang belulang, diselenggarakan upacara Mompemate (memindahkan tulang belutang itu ke gua-gua).

7 Keistimewaan Provinsi Sulawesi Tengah

Provinsi Sulawesi Tengah menjadi provinsi di bagian unsur utara Indonesia mempunyai wisata alam yang paling istimewa. Provinsi sulawesi tengah mempunyai keindahan yang luar biasa, yang tidak kalah dengan wisata di Bali atau Yogyakarta. Para wisatawan dapat menemukan pelbagai hewan dan tanaman langka yang notabenenya hanya ada di Sulawesi Tengah saja.

1. Pulo Dua

Pulo Dua yang menjadi Objek wisata ini mulai dikenal sampai ke manca negara lewat Festival Pulau Dua pada 2017. Nama Pulo Dua dipungut dari kata Pulau Dua. Tak jauh dari pesisir pantai Desa Kampangar, selama 15 menit masa-masa tempuh dari pesisir pantai Desa Kampangar andai menggunakan perahu, terletak dua pulau. Pulau Dua ialah kombinasi bahari dan daratan yang serasi. Kawasan perairan Pulau Dua pun memiliki pesona untuk penghobi selam.Di Pulau Dua ini semua wisatawan dapat menyewa perahu dengan harga Rp 350-400 ribu per sekali jalan guna mengantar ke Pulau Dua.Untuk harga tersebut, perahu bakal menunggumu tracking perbukitan hingga puncak dan merasakan pagi atau sore dari atas bukitnya.

Pulau Dua dapat diakses dari Bandara Luwuk atau Kota Palu lebih dekat dan gampang dengan jalur yang ramah kendaraan bermotor. Tujuannya ialah Pantai Balantak, lokasi penyeberangan mengarah ke ke Pulau Dua. Sebaiknya tidak berangkat malam hari sebab minim penerangan dan anda harus melalui jalur yang sepi. Bahkan terdapat ancaman dari buaya yang masih bebas berkeliaran di alam Sulawesi Tengah Meski terpencil, namun ternyata nama Pulau Dua telah terkenal di kalangan turis mancanegara. Pengunjung yang datang ke sini dapat menikmati daratan yang masih alami dikelilingi oleh lautan sarat misteri.

2. Dataran Tinggi Napu

Dataran Tinggi Napu dikenal sebagai sentra pengembangan sekian banyak jenis komoditas pertanian, terutama hortikultura. Karena dataran Tinggi Napu, Kabupaten Poso, adalahsalah satu distrik di Sulawesi Tengah yang mempunyai agroekosistem basah dengan tipe hujan A dan berada pada zone agroklimat A1. Suhu harian berkisar antara 15⁰C sampai 31⁰C dengan curah hujan lebih dari 2500 mm/tahun. Dataran Tinggi Napu pun mempunyai hamparan distrik yang datar dan terletak pada elevasi 900 sampai 1200(mdpl), mempunyai jenis tanah berpengaruh jenis entisol, inceptisol dan ultisol.

Kondisi ini sangat sesuai dalam potensi pengembangan komoditas pertanian,khususnya hortikultura,teh dan kopi. Napu adalahsurganya hortikultura dan tumbuhan lainnya. Melihat potensi suasana alam yang menyokong ini, membuat sekian banyak pihak baik tersebut pihak pemerintah ataupun stakeholders lainnya guna ikut serta pun di dalam mengembangkan sekian banyak sektor pertanian di Dataran Tinggi Napu. Potensi dari sektor Tanaman Pangan yang terdiri dari Padi Sawah dengan luas lahan 6.184 ha dengan IP 125%, jagung 3.079 ha dan Kedelai 29 ha. Sedangkan sektor hortikultura terdiri dari bawang merah 1400 ha, kentang 1200 ha dan kubis 5.000 ha. Dan yang terakhir merupakan Perkebunan yang terdiri dari kakao 6.612 ha dan kopi 1.623 ha.dengan sekian banyak potensi ini dapat menyokong terwujudnya keawetan pangan di Sulawesi Tengah

3. Pulau Sombori

Pulau Sombori sering dijuluki Raja Ampat mini atau Phi Phi Island-nya Indonesia .Pemandangan lautnya memang secantik Raja Ampat. Pulau Sombori ini juga ialah ‘surga tropis’ yang masih termasuk baru di Morowali, Sulawesi Tengah. Pulau ini adalahsebuah area konservasi laut dengan luas 41.342 ha yang terletak di Desa Mbokita, Kecamatan Menui Kepulauan.

Keistimewaan Sombori ialah pantainya yang sangat bening dengan air berwarna hijau kebiruan. Dikelilingi gugusan pulau hijau dan tebing karst yang estetis dipandang. Ada pun gua stalagmit-stalagtit dan hidden lagoon yang dapat dicapai dengan trekking.Calon wisatawan yang hendak mengunjungi Pulau Sombori seringkali ditawarkan paket wisata Kepulauan Labengki dan Sombori.Untuk biayanya dapat murah, dapat pula mahal. Banyak yang eksplor Labengki & Sombori dengan gaya backpacker dan tersebut memang dimungkinkan. menginginap di balai desa, island hopping naik perahu kayu, satu regu terdiri dari tidak sedikit orang (lebih dari 10) atau ikut open trip dengan ongkos sekitar Rp 900.000 per orang guna 3 hari trip, di luar tiket pesawat ke Kendari.

4. Taman Nasional Lore Lindu

Masuk ke tengah Lore Lindu, Lembah Besoa di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, menjadi tujuan utama. Lore Lindu menjanjikan petualangan menuju dusun purba. Keunikannya, website megalit ini berbentuk kampung. Wisatawan dapat menemukan alat-alat lokasi tinggal tangga dari batu raksasa, kuburan, dan rumah insan masa neolitikum di era zaman logam. Ketika itu, insan belum mengenal perlengkapan dari logam, mereka menciptakan segala perabotannya dari apa yang didapat dari alam sekitar, laksana kayu, daun, tulang, kulit binatang, dan pun dari batu.Di Indonesia, salah satu tempat peninggalan kebudayaan zaman megalitik (batu besar) tertua dapat disaksikan di area Cagar Budaya Lore-Lindu di Sulawesi Tengah atoe, Watutau, Kabupaten Poso,di mana sudah ditemukan antara 67 sampai 83 situs.

Hasil uji pertanggalan karbon peninggalan megalitikum yang tersebar di area Lore mengindikasikan usia kebudayaan ini sedang di kisaran 2.000 tahun sebelum masehi.Sedangkan, hasil riset menurut temuan tulang-tulang rangka insan di di antara kubur tempayan di website Wineki, Lembah Behoa mengungkapkan sisa-sisa peninggalan tersebut diduga berusia selama 2351-1416 sebelum masehi yang lantas punah pada selama tahun 1452-1527 masehi. Temuan megalitik itu berupa bejana batu (kalamba), tempayan kubur, arca, menhir, batu lumpang, batu dakon, batu lesung, batu dulang, punden berundak, sampai pagar/benteng.Dari aspek sejarah, kehadiran cagar kebiasaan kawasan Lore-Lindu dinilai memberi sumbangan paling berarti dalam pertumbuhan migrasi penutur bahasa Austronesia yang secara teoritis masuk ke distrik Nusantara melewati wilayah Sulawesi (jalur utara) dan diketahui sebagai moyang bangsa Indonesia.

5. Pakaian Adat Suku Totoli

Suku Toli Toli berdiam di wilayah Sulawesi Tengah, tepatnya di suatu wilayah yang menghampar dari sebelah unsur selatan Sojool Seoo Lenjuu, Pulau Taring sampai di sebelah unsur utara Kuala Lakuan, Gunung Raeta dan Gunung Tabadak.Arti dari Toli toli ini ialah 3 (tiga), yang dimana masyarakatnya percaya bahwa Suku Toli Toli berasal dari 3 orang. Berdasarkan keterangan dari riwayat suku tersebut, tiga orang yang dimaksud ialah :Tau dei olisan bulaan: orang dari bambu kuning,Tau dei juga lanjat: orang dari pohon langsat, dan Tau dei ue taka: orang dari rotan.

Suku Toli Toli pun mempunyai pakaian adat yang menarik dengan memakai bahan kulit kayu ivo dan kulit kayu nunu sebagai bahan pembuatnya. Pakaian adat wanita memakai Badu atau blus lengan pendek dengan lipatan-lipatan kecil yang dihiasi manik-manik dan pita emas. Pemakaian blus ini dipadu dengan bawahan berupa puyuka yang berupa celana panjang yang dihiasi pita emas dan manik-manik, ban pinggang berwarna kuning, serta lipa atau sarung sekedar lutut. Sedangkan, pakaian adat lelaki berupa blus lengan panjang dengan leher tegak yang dihiasi pita emas dan manik-manik berwarna kuning dipadukan dengan puyuka. Ditambahkan pula sarung sekedar lutut serta sanggo sebagai penutup kepala. Beberapa perhiasan yang dipakai dalam upacara adat berupa daun enau dan kulit kayu.Sedangkan untuk kaum laki-laki, pakaian adat yang dipakai antara beda blus lengan panjang berleher tegak, celana panjang, sarung selutut, dan tutup kepala yang disebut dengan songgo.

6. Uta Kelo

Uta kelo berasal dari bahasa Kaili yang dengan kata lain Sayur Kelor.Uta kelo yang bahan utamanya memakai daun kelor ini di antara kuliner khas masyarakat Sulawesi Tengah. Kuliner yang satu ini identik dengan kehidupan di antara suku terbesar yang mendiami area Sulawesi Tengah yakni suku Kaili. Cita rasanya yang khas dan menarik menjadikannya sebagai identitas kuliner Sulawesi Tengah. Uta Kelo ialah kuliner berbahan dasar daun kelor dengan kuah santan kental. Sebagai pelengkap, seringkali ditambahkan irisan terung muda, pisang muda, dan lamale (udang halus). Kuah santan yang gurih, daun kelor yang segar, terung/pisang muda dengan tekstur yang lembut, dan rasa lamale yang khas menjadikan Uta Kelo sebagai di antara menu wajib untuk masyarakat suku Kaili.

Cita rasa yang nikmat menciptakan kuliner yang satu ini tidak melulu dikonsumsi oleh To Kaili saja. Kuliner ini pun dikonsumsi oleh masyarakat dari etnis beda yang tinggal di Sulawesi Tengah laksana Bugis, Mandar, Jawa, dan lain-lain. Proses akulturasi kebiasaan turut andil dalam menciptakan kuliner yang satu ini diterima oleh lidah masyarakat “pendatang” di Sulawesi Tengah. Masyarakat suku Kaili percaya bahwa jangan memasak atau memakan Uta Kelo pada ketika ada orang meninggal. Jika urusan itu dilanggar, mereka percaya bahwa di dalam Uta Kelo itu nantinya bakal ada anggota tubuh orang yang meninggal tersebut laksana kuku, rambut, gigi, dan lain-lain.

7.Danau Paisu Pok

Danau Paisu Pok, yang terletak di Desa Luk Panenteng, Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah. Danau alami ini punya nama Paisu Pok yang berarti air hitam. Masyarakat setempat menyebutnya demikian sebab warna air di sekitar telaga yang nyaris menghitam kebiruan dan paling indah. Padahal, tersebut semua ialah pantulan dari rumput yang tumbuh di unsur dasar sampai-sampai air yang berwarna biru tampak lebih gelap.

Untuk mengarah ke Danau Paisu Pok dibutuhkan waktu 2,5 jam dari pusat kota Salakan dengan memakai kendaraan umum atau pribadi.Setelah mendarat di desa tersebut, pengunjung melulu perlu memanjat selama 5 sampai 10 menit dari jalan utama guna sampai di Danau Paisu Pok dengan harga tiket masuk Rp5000 saja. Satu urusan yang istimewa dari Danau Paisu Pok ini ialah tempatnya yang dikelilingi oleh hutan dan jauh dari area perkotaan. Sehingga jauh dari polusi dan tidak sedikit pohon rindang yang tumbuh di dekat kolam alami tersebut.Selain tempatnya yang paling indah, masyarakat setempat paling bersahabat dan ramah.