7 Keistimewaan Provinsi Sulawesi Tengah

Provinsi Sulawesi Tengah menjadi provinsi di bagian unsur utara Indonesia mempunyai wisata alam yang paling istimewa. Provinsi sulawesi tengah mempunyai keindahan yang luar biasa, yang tidak kalah dengan wisata di Bali atau Yogyakarta. Para wisatawan dapat menemukan pelbagai hewan dan tanaman langka yang notabenenya hanya ada di Sulawesi Tengah saja.

1. Pulo Dua

Pulo Dua yang menjadi Objek wisata ini mulai dikenal sampai ke manca negara lewat Festival Pulau Dua pada 2017. Nama Pulo Dua dipungut dari kata Pulau Dua. Tak jauh dari pesisir pantai Desa Kampangar, selama 15 menit masa-masa tempuh dari pesisir pantai Desa Kampangar andai menggunakan perahu, terletak dua pulau. Pulau Dua ialah kombinasi bahari dan daratan yang serasi. Kawasan perairan Pulau Dua pun memiliki pesona untuk penghobi selam.Di Pulau Dua ini semua wisatawan dapat menyewa perahu dengan harga Rp 350-400 ribu per sekali jalan guna mengantar ke Pulau Dua.Untuk harga tersebut, perahu bakal menunggumu tracking perbukitan hingga puncak dan merasakan pagi atau sore dari atas bukitnya.

Pulau Dua dapat diakses dari Bandara Luwuk atau Kota Palu lebih dekat dan gampang dengan jalur yang ramah kendaraan bermotor. Tujuannya ialah Pantai Balantak, lokasi penyeberangan mengarah ke ke Pulau Dua. Sebaiknya tidak berangkat malam hari sebab minim penerangan dan anda harus melalui jalur yang sepi. Bahkan terdapat ancaman dari buaya yang masih bebas berkeliaran di alam Sulawesi Tengah Meski terpencil, namun ternyata nama Pulau Dua telah terkenal di kalangan turis mancanegara. Pengunjung yang datang ke sini dapat menikmati daratan yang masih alami dikelilingi oleh lautan sarat misteri.

2. Dataran Tinggi Napu

Dataran Tinggi Napu dikenal sebagai sentra pengembangan sekian banyak jenis komoditas pertanian, terutama hortikultura. Karena dataran Tinggi Napu, Kabupaten Poso, adalahsalah satu distrik di Sulawesi Tengah yang mempunyai agroekosistem basah dengan tipe hujan A dan berada pada zone agroklimat A1. Suhu harian berkisar antara 15⁰C sampai 31⁰C dengan curah hujan lebih dari 2500 mm/tahun. Dataran Tinggi Napu pun mempunyai hamparan distrik yang datar dan terletak pada elevasi 900 sampai 1200(mdpl), mempunyai jenis tanah berpengaruh jenis entisol, inceptisol dan ultisol.

Kondisi ini sangat sesuai dalam potensi pengembangan komoditas pertanian,khususnya hortikultura,teh dan kopi. Napu adalahsurganya hortikultura dan tumbuhan lainnya. Melihat potensi suasana alam yang menyokong ini, membuat sekian banyak pihak baik tersebut pihak pemerintah ataupun stakeholders lainnya guna ikut serta pun di dalam mengembangkan sekian banyak sektor pertanian di Dataran Tinggi Napu. Potensi dari sektor Tanaman Pangan yang terdiri dari Padi Sawah dengan luas lahan 6.184 ha dengan IP 125%, jagung 3.079 ha dan Kedelai 29 ha. Sedangkan sektor hortikultura terdiri dari bawang merah 1400 ha, kentang 1200 ha dan kubis 5.000 ha. Dan yang terakhir merupakan Perkebunan yang terdiri dari kakao 6.612 ha dan kopi 1.623 ha.dengan sekian banyak potensi ini dapat menyokong terwujudnya keawetan pangan di Sulawesi Tengah

3. Pulau Sombori

Pulau Sombori sering dijuluki Raja Ampat mini atau Phi Phi Island-nya Indonesia .Pemandangan lautnya memang secantik Raja Ampat. Pulau Sombori ini juga ialah ‘surga tropis’ yang masih termasuk baru di Morowali, Sulawesi Tengah. Pulau ini adalahsebuah area konservasi laut dengan luas 41.342 ha yang terletak di Desa Mbokita, Kecamatan Menui Kepulauan.

Keistimewaan Sombori ialah pantainya yang sangat bening dengan air berwarna hijau kebiruan. Dikelilingi gugusan pulau hijau dan tebing karst yang estetis dipandang. Ada pun gua stalagmit-stalagtit dan hidden lagoon yang dapat dicapai dengan trekking.Calon wisatawan yang hendak mengunjungi Pulau Sombori seringkali ditawarkan paket wisata Kepulauan Labengki dan Sombori.Untuk biayanya dapat murah, dapat pula mahal. Banyak yang eksplor Labengki & Sombori dengan gaya backpacker dan tersebut memang dimungkinkan. menginginap di balai desa, island hopping naik perahu kayu, satu regu terdiri dari tidak sedikit orang (lebih dari 10) atau ikut open trip dengan ongkos sekitar Rp 900.000 per orang guna 3 hari trip, di luar tiket pesawat ke Kendari.

4. Taman Nasional Lore Lindu

Masuk ke tengah Lore Lindu, Lembah Besoa di Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, menjadi tujuan utama. Lore Lindu menjanjikan petualangan menuju dusun purba. Keunikannya, website megalit ini berbentuk kampung. Wisatawan dapat menemukan alat-alat lokasi tinggal tangga dari batu raksasa, kuburan, dan rumah insan masa neolitikum di era zaman logam. Ketika itu, insan belum mengenal perlengkapan dari logam, mereka menciptakan segala perabotannya dari apa yang didapat dari alam sekitar, laksana kayu, daun, tulang, kulit binatang, dan pun dari batu.Di Indonesia, salah satu tempat peninggalan kebudayaan zaman megalitik (batu besar) tertua dapat disaksikan di area Cagar Budaya Lore-Lindu di Sulawesi Tengah atoe, Watutau, Kabupaten Poso,di mana sudah ditemukan antara 67 sampai 83 situs.

Hasil uji pertanggalan karbon peninggalan megalitikum yang tersebar di area Lore mengindikasikan usia kebudayaan ini sedang di kisaran 2.000 tahun sebelum masehi.Sedangkan, hasil riset menurut temuan tulang-tulang rangka insan di di antara kubur tempayan di website Wineki, Lembah Behoa mengungkapkan sisa-sisa peninggalan tersebut diduga berusia selama 2351-1416 sebelum masehi yang lantas punah pada selama tahun 1452-1527 masehi. Temuan megalitik itu berupa bejana batu (kalamba), tempayan kubur, arca, menhir, batu lumpang, batu dakon, batu lesung, batu dulang, punden berundak, sampai pagar/benteng.Dari aspek sejarah, kehadiran cagar kebiasaan kawasan Lore-Lindu dinilai memberi sumbangan paling berarti dalam pertumbuhan migrasi penutur bahasa Austronesia yang secara teoritis masuk ke distrik Nusantara melewati wilayah Sulawesi (jalur utara) dan diketahui sebagai moyang bangsa Indonesia.

5. Pakaian Adat Suku Totoli

Suku Toli Toli berdiam di wilayah Sulawesi Tengah, tepatnya di suatu wilayah yang menghampar dari sebelah unsur selatan Sojool Seoo Lenjuu, Pulau Taring sampai di sebelah unsur utara Kuala Lakuan, Gunung Raeta dan Gunung Tabadak.Arti dari Toli toli ini ialah 3 (tiga), yang dimana masyarakatnya percaya bahwa Suku Toli Toli berasal dari 3 orang. Berdasarkan keterangan dari riwayat suku tersebut, tiga orang yang dimaksud ialah :Tau dei olisan bulaan: orang dari bambu kuning,Tau dei juga lanjat: orang dari pohon langsat, dan Tau dei ue taka: orang dari rotan.

Suku Toli Toli pun mempunyai pakaian adat yang menarik dengan memakai bahan kulit kayu ivo dan kulit kayu nunu sebagai bahan pembuatnya. Pakaian adat wanita memakai Badu atau blus lengan pendek dengan lipatan-lipatan kecil yang dihiasi manik-manik dan pita emas. Pemakaian blus ini dipadu dengan bawahan berupa puyuka yang berupa celana panjang yang dihiasi pita emas dan manik-manik, ban pinggang berwarna kuning, serta lipa atau sarung sekedar lutut. Sedangkan, pakaian adat lelaki berupa blus lengan panjang dengan leher tegak yang dihiasi pita emas dan manik-manik berwarna kuning dipadukan dengan puyuka. Ditambahkan pula sarung sekedar lutut serta sanggo sebagai penutup kepala. Beberapa perhiasan yang dipakai dalam upacara adat berupa daun enau dan kulit kayu.Sedangkan untuk kaum laki-laki, pakaian adat yang dipakai antara beda blus lengan panjang berleher tegak, celana panjang, sarung selutut, dan tutup kepala yang disebut dengan songgo.

6. Uta Kelo

Uta kelo berasal dari bahasa Kaili yang dengan kata lain Sayur Kelor.Uta kelo yang bahan utamanya memakai daun kelor ini di antara kuliner khas masyarakat Sulawesi Tengah. Kuliner yang satu ini identik dengan kehidupan di antara suku terbesar yang mendiami area Sulawesi Tengah yakni suku Kaili. Cita rasanya yang khas dan menarik menjadikannya sebagai identitas kuliner Sulawesi Tengah. Uta Kelo ialah kuliner berbahan dasar daun kelor dengan kuah santan kental. Sebagai pelengkap, seringkali ditambahkan irisan terung muda, pisang muda, dan lamale (udang halus). Kuah santan yang gurih, daun kelor yang segar, terung/pisang muda dengan tekstur yang lembut, dan rasa lamale yang khas menjadikan Uta Kelo sebagai di antara menu wajib untuk masyarakat suku Kaili.

Cita rasa yang nikmat menciptakan kuliner yang satu ini tidak melulu dikonsumsi oleh To Kaili saja. Kuliner ini pun dikonsumsi oleh masyarakat dari etnis beda yang tinggal di Sulawesi Tengah laksana Bugis, Mandar, Jawa, dan lain-lain. Proses akulturasi kebiasaan turut andil dalam menciptakan kuliner yang satu ini diterima oleh lidah masyarakat “pendatang” di Sulawesi Tengah. Masyarakat suku Kaili percaya bahwa jangan memasak atau memakan Uta Kelo pada ketika ada orang meninggal. Jika urusan itu dilanggar, mereka percaya bahwa di dalam Uta Kelo itu nantinya bakal ada anggota tubuh orang yang meninggal tersebut laksana kuku, rambut, gigi, dan lain-lain.

7.Danau Paisu Pok

Danau Paisu Pok, yang terletak di Desa Luk Panenteng, Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah. Danau alami ini punya nama Paisu Pok yang berarti air hitam. Masyarakat setempat menyebutnya demikian sebab warna air di sekitar telaga yang nyaris menghitam kebiruan dan paling indah. Padahal, tersebut semua ialah pantulan dari rumput yang tumbuh di unsur dasar sampai-sampai air yang berwarna biru tampak lebih gelap.

Untuk mengarah ke Danau Paisu Pok dibutuhkan waktu 2,5 jam dari pusat kota Salakan dengan memakai kendaraan umum atau pribadi.Setelah mendarat di desa tersebut, pengunjung melulu perlu memanjat selama 5 sampai 10 menit dari jalan utama guna sampai di Danau Paisu Pok dengan harga tiket masuk Rp5000 saja. Satu urusan yang istimewa dari Danau Paisu Pok ini ialah tempatnya yang dikelilingi oleh hutan dan jauh dari area perkotaan. Sehingga jauh dari polusi dan tidak sedikit pohon rindang yang tumbuh di dekat kolam alami tersebut.Selain tempatnya yang paling indah, masyarakat setempat paling bersahabat dan ramah.

Leave a Comment